Kamis, 16 Januari 2014

MUSEUM DITENGAH KEBUN



papan nama di depan pintu gerbang
Kami main ke Museum di Tengah Kebun. Asal mulanya juga sebetulnya nggak begitu jelas. Cuman hari Selasa malam saya chatting sama @ratnakwik, dan dia cerita abis dari sana, sambil ngasi link blognya dia, yang menceritakan dengan lebih jelas dan lebih oke apa itu Museum Tengah Kebun, bagaimana [calon] pengunjung harus reservasi dulu kalo mau main dengan jumlah minimal orang tujuh orang. Bagaimana museum hanya buka pada hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, dengan membuka dua sesi kunjungan (9:45 dan 12:30).
Entah kenapa, dengan beberapa hal yang nyentrik itu, menggerakkan saya untuk Rabu paginya menelpon ke 021-7196907, tanya-tanya, terus ngebujuk beberapa teman, dan nelpon ulang untuk bikin reservasi besok Kemis paginya. Wak wak waak…
Jadilah, Kamis pagi sampai siang itu, kami serasa diajak meninggalkan Jakarta. Rumah besar yang diisi dengan dua ribuan koleksi dari 63 negara itu membius kami hampir berjam-jam lamanya. Ditemani Pak Mirza, keponakan dari Pak Djalil yang dengan setia menemani dan membanjiri kami dengan cerita-ceritanya. Pelajaran sejarah, geografi, agama, kewarganegaraan lengkap kami dapat siang itu.
Sekitar pukul 12 siang, setelah selesai mengunjungi seluruh tujuh belas ruangan, yang masing-masing diberi nama yang berbeda-beda oleh pemiliknya, kami beristirahat di halaman belakang rumah. Jadi dari 4200 m2 luas seluruh tanahnya, 3500 m2 dijadikan taman asri, lengkap dengan kolam renang berwarna biru jernih yang rasanya memanggil-manggil kami untuk nyemplung, well.. okeey… saya aja mungkin :D
Menghabiskan waktu di taman itu sama sekali nggak terasa saat itu sudah tengah hari. Rasanya lagi liburan di Bali! Hanya perut yang keroncongan yang mengingatkan kami. Kalo nggak kelaperan, mungkin bisa sampe sore kali, ya di sana. Ahahahah. Kami sempat juga bertemu dengan Pak Djalil yang kebetulan sedang beristirahat di ruang tidurnya. Jadi memang rumah ini, meskipun dijadikan museum, masih digunakan sebagai tempat tinggal sehari-hari. Bahkan katanya, kegiatan sehari-sehari, seperti misalnya memasak dan makan masih dilakukan di ruangan besar dengan meja dan kursi-kursi kayu antik dari Denmark, dikelilingi oleh berbagai benda koleksi Pak Djalil ini. Sayangnya, karena Pak Djalil sedang sakit, kami jadi nggak punya kesempatan untuk berlama-lama ngobrol dengan beliau. Pak Mirza sempat menyebut bahwa dulunya Pak Djalil bekerja di dunia advertising, ketika saya googling sebentar mengenai beliau, ternyata beliau inilah yang menciptakan tagline “Honda, Selalu Lebih Unggul”. Hihi. (Intermezzo dikit, ahh. Dilarang protes)
salah satu koleksi lucu yang saya suka banged! :D
salah satu koleksi lucu yang saya suka banged! :D
Oh ya, sedikit tips kalo mau ke sini, harus on time! Pak Djalil terkenal sangat perfeksionis, termasuk dalam hal waktu, dan ini menurun juga ke keponakannya. Saya dan rombongan kemarin sempat terlambat sekitar lima belas menit dari waktu yang saya janjikan, yang ternyata sudah ditunggu sejak setengah jam sebelumnya, dan nggak dipungkiri menjadi lima belas menit yang cukup membuat saya merasa bersalah sepanjang perjalanan menuju ke sana. Nggak perlu juga berangkat lebih awal, karena sama aja, sih, nggak akan dibukakan juga kalo belom waktunya buka.
Overall, tempat yang unik dan worth it banged untuk dikunjungi. Nggak akan rugi, deh! Apalagi, belum lama ini, bulan Mei kemarin, museum Tengah Kebung baru saja merebut piala bergilir sebagai Museum Terbaik dari 62 museum yang ada di Jakarta. Posisinya juga pas banged, di Kemang, tepatnya di Jl. Kemang Timur Raya no 66, jadi begitu selesai main ke museum, bisa langsung balik lagi jadi anak nongkrong

Kamis, 07 November 2013

KOMPAS.com - Ganja adalah tanaman narkotika yang manfaat dan efek buruknya masih menjadi kontroversi. Di tengah perdebatan baik buruknya ganja bagi kesehatan, penelitian ilmiah mengenai kandungan aktif zat ini terus berkembang.

Salah satu yang terbaru adalah potensi ganja sebagai obat masa depan yang dapat mengembalikan fungsi otak manusia setelah mengalami cedera atau trauma. Sebuah penelitian kecil menggunakan hewan di laboratorium mengindikasikan, ganja memiliki efek neuroprotektif  Beberapa riset juga menyebutkan bahwa kandungan aktif dalam ganja diduga dapat melindungi otak dari penyakit degeneratif saraf seperti sklerosis, alzheimer, huntington dan parkinson.

Para ahli dari Adelson Center  for Biology of Addictive Diseases di Tel Aviv University Israel mencoba mengeksplorasi khasiat kandungan utama ganja. Mereka berteori bahwa dosis ekstra rendah tetrahydrocannabinol (THC) dapat memicu kerusakan kecil pada otak, yang sebenarnya merupakan upaya 'prekondisi' dalam mengantisipasi kerusakan yang lebih serius akibat beragam penyebab, misalnya karena kekurangan oksigen, terbentur, atau paparan racun dan obat-obatan.

"Dalam kondisi ini, ganja seperti halnya vaksin. Dia melukai sebelum menyediakan pertahanan untuk luka traumatik," kata Dr. Yosef Sarne, salah seorang peneliti.

Pada jurnalnya yang dipublikasikan dalam Behavioural Brain Research dan Experimental Brain Research, Sarne menyuntikkan THC pada tikus. Setiap tikus disuntik THC dengan dosis seribu sampai 10 ribu kali lebih rendah dibanding yang biasa ditemukan. Tikus ini kemudian direkayasa untuk menghadapi trauma pada otak beberapa hari kemudian.

Menurut peneliti, penyuntikan THC dapat merangsang proses biokimia dalam otak. Proses ini melindungi sel dan fungsi kognitif otak.  Tikus dengan THC juga menunjukkan memori yang lebih baik dalam tes yang dilakukan 3 sampai 7 minggu setelah mengalami trauma otak. Tikus-tikus ini juga menunjukkan kenaikan kadar zat kimia neuroprotektif yang lebih tinggi dibanding kelompok lain.

Pada tes laboratorium, THC dapat mempengaruhi sinyal antar sel.  Sinyal ini mencegah sel dari risiko kematian dan merangsang pertumbuhannya. "Kami yakin dalam prosesnya THC dalam ganja, akan berefek sama pada manusia. Walau begitu, penggunaan ganja pada manusia masih perlu diteliti," kata Sarne.